Rabu, 13 Februari 2019

pemanfaatan panas bumi di kota tidore kepulauan


PEMANFAATAN PANAS BUMI SECARA LANGSUNG DI KOTA TIDORE KEPULAUAN

       Berdasarkan kajian literatur menunjukkan bahwa di Kelurahan Dowora, Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara terdapat mata air panas pada batuan aluvium di sisi luar dari ring struktur kaldera Talaga. Mata air panas tersebut mengindikasikan bahwa di kedalaman daerah mengandung potensi energi panas bumi. 

       Dalam rangka pengupayaan dan pemanfaatan energi panas bumi di remote island perlu dilakukan survai panas bumi terpadu memakai metoda geologi, geokimia dan geofisika untuk mengetahui potensi cadangan panas bumi di P. Tidore yang mungkin bisa dikembangkan untuk pemanfaatan energi alternatif bersifat ramah lingkungan, dapat diperbaharui dan relatif murah, serta sumbernya berasal dari kedalaman bumi P. Tidore sendiri.
    
     Di Kota Tidore Kepulauan sektor pariwisata kurang mendapat pengelolaan yang berarti. Pemerintah tidak memiliki kebijakan makro sebagai pedoman dalam pengembangan pariwisata. Namun sejak 2006 Pemerintah Kota Tidore Kepulauan memiliki inisiatif untuk mengelola sektor pariwisata termasuk objek wisata Pantai Akesahu melalui RIPPDA 2008. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan kebijakan pengelolaan objek wisata Kota Tidore Kepulauan dan Pantai Akesahu, dan untuk menganalisis efektivitas pengelolaan pariwisata dilihat dari program pembangunan infrastruktur pendukung objek wisata Pantai Akesahu. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif. Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer yang dikumpulkan melalui observasi dan wawancara mendalam, dan data sekunder yang diperoleh dengan teknik dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan pengelolaan infrastruktur objek wisata Pantai Akesahu oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tidore Kepulauan sangat efektif dengan realisasi anggaran 100%. Pengelolaan infrastruktur objek wisata ini sangat efektif karena di Pantai Akesahu terbangun beberapa fasilitas fisik umum yaitu: (1) 1 jalur jalan aspal dan 1 trayek angkutan desa melalui Pantai Akesahu; (2) 2 pagar tembok keliling, 1 pintu gerbang loket masuk; (3) 1 benteng keliling dan 1 tangga permanen sumber air panas; (4) 1 area parkir motor dan mobil; (5) 8 gazebo; (6) 1 taman rekreasi lahan miring dan beberapa jalan dan fasilitas istirahat sepanjang pantai; dan (7) 1 tangki air, dan 4 toilet dan kamar ganti. Dari perspektif Pemerintah Daerah, pengelolaan infrastruktur objek wisata Pantai Akesahu sangat efektif dengan skor persepsi manfaat 84,06% (>75%). Dari perspektif masyarakat, pengelolaan infrastruktur ini efektif dengan skor persepsi manfaat 65,50% (51-75%). Dari perspektif pengunjung, pengelolaan infrastruktur ini efektif dengan skor persepsi manfaat 65,00% (51-75%). Namun, pengelolaan infrastruktur di objek wisata Pantai Akesahu masih dipandang tidak efektif oleh sebagian informan masyarakat dan pengunjung, karena di Pantai Akesahu belum ada fasilitas umum berupa kios permanen untuk jualan dan pengelolaan selama ini tidak melibatkan stakeholder lokal, sedangkan sebagian pengunjung berpendapat bahwa pengelolaan infrastruktur ini tidak efektif karena kurang terpadu (42,50%) dan objek wisata tidak dapat dibuka setiap hari dan objeknya monoton (45,00%), dan tidak mendorong pengunjung untuk datang berwisata kembali. Pengelolaan harian objek wisata juga hampir tidak ada akibat tidak ada kemitraan pengelolaan dengan sektor swasta. Kekurangefektivitasan pengelolaan infrastruktur ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: (a) Kurangnya koordinasi antar instansi pemerintah; (b) Masih terbatasnya sarana akomodasi ; (c) Kurangnya kemitraan dalam pengelolaan objek wisata Pantai Akesahu; (d) Kurangnya produk wisata; (e) Kurangnya SDM pengelola harian; (f) Kurangnya pemasaran pariwisata; dan (g) Ketidaksesuaian harapan masyarakat dan pemerintah.















Tidak ada komentar:

Posting Komentar